Impulsif
Jika memiliki sifat impulsif, kita mungkin mengira bahwa kita mudah
mengalami kecelakaan. Kenyataannya tidaklah demikian. Ancaman
kesehatan terbesar bagi orang dengan watak impulsif adalah stomach
ulcers. Perut mudah terasa perih dan panas, mungkin kita lebih
mengenalnya dengan istilah borok lambung.
Para peneliti di Finnish Institute of Occupational Health mengadakan
riset kepada lebih dari 4.000 orang dan menemukan fakta bahwa
responden yang memiliki kepribadian impulsif menganggung resiko 2,4
kali lebih besar untuk terserang stomach ulcers.
Orang impulsif memiliki kecenderungan dalam menanggapi stress, dengan
kadar produksi asam yang lebih tinggi dibandingkan orang kebanyakan.
Akibatnya muncullah stomach ulcers.
Para peneliti di Universitas Wales juga memperlihatkan bahwa sifat
impulsif juga bertalian dengan ketidakmampuan mengontrol aktivitas
makan.
Agresif
Manusia yang suka menunjukkan sifat bermusuhan sangat rentan terserang
berbagai macam gangguan kesehatan serius.
Kesimpulan sebuah studi Skotlandia yang melibatkan hampir 2.000
responden pria dan wanita menyatakan bahwa faktanya, sebagian besar
penderita artherosclerosis adalah orang yang menunjukkan sifat
bermusuhan.
Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sesorang dengan
kepribadian agresif, tinggi kemungkinannya terserang radang kronis
diseluruh bagian tubuh. Sedangkan radang berkaitan erat dengan
sejumlah penyakit berbahaya seperti jantung. Hal tersebut disebabkan,
radang berperan aktif dalam penimbunan lemak dalam pembuluh darah.
Orang agresif merespon lebih cepat dan lebih kuat terhadap stress,
baik secara mental maupun fisik. Hal ini mengakibatkan tekanan darah
meningkat dan akhirnya berdampak pada kerusakan sistem kardiovaskular.
Menurut riset lain di Amerika, kepribadian agresif juga membuat orang
lebih rentan terhadap serangan depresi parah.
Peneliti di Universitas Ohio State, melakukan penelitian dengan
sengaja membuat luka kecil di lengan beberapa responden yang sehat.
Hanya dalam kurun waktu 4 hari, hanya 30% pasien dengan sifat agresif
yang lengannya pulih. 70% lainnya, pasien bukan dengan kepribadian
agresif, mengalami penyembuhan lebih cepat. Hal ini membuktikan bahwa
orang dengan sifat pemarah lebih lama pulih dari suatu penyakit yang
dideritanya.
Ekstrovert
Menurut penelitan di Universitas Milan, orang dengan kepribadian
ekstrovert atau terbuka jarang terserang gangguan jantung. Para
periset di Universitas di Italia itu menyimpulkan bahwa resiko yang
ditanggung orang ekstrovert untuk terkena gangguan jantung lebih
rendah 15%.
Mereka juga lebih cepat pulih dari sakit dan tidak seberapa rentan
terhadap infeksi. Sebuah teori menyebutkan bahwa mereka memiliki
strategi yang lebih efektif untuk mengatasi stress. Mereka juga sigap
mencari pertolongan medis begitu mendapati gejala penyakit di tubuh
mereka.
Namun, orang ekstrovert ternyata rentan menderita obesitas
dibandingkan tipe neurotis, hal ini merupakan hasil riset di Yamagata
University School of Medicine Japan.
Sejumlah teori secara bervariasi memaparkan penyebab resiko obesitas
pada tipe ekstrovert. Salah satunya menyatakan bahwa orang dengan
kepribadian ekstrovert lebih mudah bergaul dan karenanya lebih sering
terlibat dalam acara makan – makan.
Introvert
Orang yang termasuk tipe mudah stres atau dikenal sebagai tipe
kepribadian D, umumnya menderita gangguan emosi tingkat tinggi dan
secara sadar menekan perasaan itu. Akibatnya mereka memiliki resiko
kanker dan jantung. Sekali terkena penyakit jantung koroner, orang
tipe tertutup menanggung resiko kematian yang tinggi. Demikianlah
laporan studi yang dilakukan tim peneliti di Harvard University.
Penulis laporan studi itu menyatakan bahwa, orang berkepribadian D
kurang pandai mengatur hormon stres. Jantung mereka berdetak lebih
cepat, tekanan darah mereka lebih tinggi, dan pembuluh darah mereka
dilaporkan lebih tegang.
Semua kondisi itu buruk bagi sistem kardiovaskular. Mereka mungkin
punya sistem kekebalan yang lebih aktif dibanding orang kebanyakan,
sehingga infeksi lebih sering terjadi dan membahayakan pembuluh darah.
Neurotis
Neurotis adalah kepribadian seseorang yang emosinya mudah terganggu.
Tipe neurotis lazim dikaitkan dengan penyakit asma, sakit kepala,
borok lambung, dan gangguan jantung, penyataan ini disebutkan oleh
Universitas California dalam laporan studinya.
Tipe neurotis sering menerapkan teknik menghadapi masalah yang tidak
efektif, suka menyalahkan diri sendiri dan bermusuhan daripada mencari
pertolongan dan dukungan orang lain.
Sudah pasti, mereka dengan tipe neurotis menjadi mudah stres dan ini
berdampak pada melemahnya sistem kekebalan tubuh. Selain itu, depresi
yang mereka derita mengakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Tekun
Mereka yang tekun dilaporkan peneliti Universitas California sebagai
kelompok orang yang usianya paling panjang.
Sikap tekun dan rajin terbukti berpengaruh besar pada peluang hidup
lebih lama. Menurut laporan riset Universitas Nottingham, sikap tekun
turut menjaga kestabilan tekanan darah serta kadar kolesterol.
Diduga orang tekun cenderung menghindari resiko dan lebih terbuka pada
gaya hidup sehat.
Periang
Salah satu hasil penelitian yang mengejutkan adalah bahwa orang
bersifat ceria cenderung lebih cepat meninggal.
Peneliti dari California Universty mencatat “Anak yang oleh orang tua
serta gurunya dikategorikan sebagai periang serta memiliki rasa humor
ternyata mati lebih cepat dibandingkan orang yang justru tidak seceria
dirinya”. Berlawanan dengan dugaan umum, sifat periang dan selera
humor ternyata berbanding terbalik dengan umur panjang.
Teori lain mencoba menjelaskan fenomena mengejutkan ini. Orang dengan
sifat periang umumnya suka menganggap enteng bahaya. Akibatnya mereka
menemukan kesulitan ketika harus menghadapi situasi diluar
perhitungannya.
Pemalu
Masih bersumber dari laporan penelitian di California University, para
pemalu sangat mudah terserang infeksi virus. Penelitian terhadap hewan
pun menunjukkan bahwa binatang dari tipe yang berkelompok memiliki
nodul pelindung limfa yang lebih aktif daripada nodul yang dimiliki
binatang dari tipe pemalu. Nodul limfa adalah bagian sistem kekebalan
tubuh dan membantu menghancurkan kuman penyakit menular seperti virus
flu dan bakteria.
Pencemas
Orang yang memiliki gangguan kecemasan menanggung resiko 3 kali lebih
tinggi dibanding orang biasa dalam terserang tekanan darah tinggi.
Sebuah riset dari Northern Arizona University menyebutkan bahwa hormon
stres mungkin sekali menjadi penyebabnya. Sementara itu, wanita dengan
gangguan kecemasan fobia punya resiko lebih tinggi untuk terserang
gangguan jantung, tekanan darah tinggi serta kolesterol. Orang yang
bersifat pencemas juga cenderung menjadi perokok.
Sementara itu, studi yang dilakukan di University of Antwerp menemukan
bahwa dalam kurun waktu 10 tahun, perawatan terhadap pasien gangguan
jantung, 27% penderita yang berkepribadian pencemas dilaporkan mati,
sementara hanya 7% pasien yang bukan pencemas yang menghembuskan nafas
terakhir.
Optimistis

Orang optimis cenderung melihat kehidupan dari sisi cerah, rata – rata
hidup 7,5 tahun lebih lama dibandingkan orang yang selalu memandang
sisi yang kelabu, demikian kesimpulan yang ditarik oleh para periset
dari Universitas California.
Resiko meninggal pada usia dini karena berbagai penyakit tidak
seberapa tinggi ditanggung oleh orang optimis, yaitu 55% lebih rendah
dibanding kelompok berlawanan. Temuan ini diumumkan oleh peneliti di
Universitas Wageningen di Belanda yang melibatkan 1.000 responden.
Sebuah teori menyebutkan bahwa optimisme bisa meningkatkan semangat
hidup, sehingga penyakit lebih mudah disembuhkan dari tubuh mereka.
Teori lainnya menyatakan bahwa pengaruh pergaulan yang luas yang
dimiliki orang optimislah yang berperan dalam menurunkan resiko
terserang penyakit. Kemampuan bergaul yang baik, dipercaya menurunkan
kadar hormon stres yaitu kortisol.
Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lebih dari
30 tahun, kelompok orang optimis memiliki cacat yang lebih sedikit
serta menderita rasa nyeri kronis yang sedikit dibandingkan kelompok
berlawanan.
Sementara itu, para peneliti di Carnegie Mellon University di
Pittsburgh mengatakan bahwa optimisme memacu sistem kekebalan dan
melindungi tubuh dari stres psikologis.
Pesimistis
Orang yang selalu mengharapkan hal terburuk akan mendapatkan
harapannya itu di sektor kesehatan mereka. Mereka memiliki resiko 19%
lebih tinggi untuk meninggal lebih awal dibandingkan orang yang
optimistis.
Para peneliti di Amerika juga menemukan bahwa ada hubungan antara
orang yang memiliki sifat pesimis dan neurotis dengan perkembangan
penyakit Parkinson’s di masa depan, simpul ahli syaraf Dr. James Bower
dari Mayo Clinic.
Tags: kepribadian, penyakit

